WELCOME TO MY PARADISE!”
Keharusan untuk menyediakan ikan segar membuat Susi terpikir untuk membeli pesawat terbang. Mengapa pula ia membuka sekolah pilot sendiri?
SEKOLAH PILOT DI RUMAHNYA
Susi sungguh pribadi yang penuh kontradiktif. Ia bermetamorfosis dari gadis kampung, menjadi warga dunia dan sukses sebagai wanita pengusaha bidang perikanan dan jasa penerbangan. Berbagai penghargaan ia terima. Mulai dari Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman Award for Economics.
Susi yang cuma lulusan SMP, kini Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product dan Presiden Diretur PT ASI Pudjiastuti Aviation yang mengoperasikan Susi Air. Di luar itu, aktivis lingkungan independen ini juga dipercaya sebagai Board of Directors HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) bidang hubungan dalam negeri; serta Ketua Komisi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah pada KADIN. Kini ia juga dipercaya sebagai dosen tamu pada program pendidikan di lingkungan BRI dan Telkom, bahkan juga dipercaya menjadi dosen tamu di ITB, IPB, dan UGM.
Tentang 3 anak muda Eropa yang ikut pulang kampung bersamanya, dan diakui Susi sebagai hendak belajar di rumahnya itu, ternyata adalah pilot-pilot muda lulusan sekolah penerbang di Norwegia, Prancis, dan Jerman. Mereka datang ke Indonesia atas biaya sendiri, untuk belajar terbang lanjutan di rumah Susi. Lho, Susi punya sekolah penerbang? Persis! Namanya Susi Flying School, dibangun tahun 2008, di bawah manajemen PT ASI Pudjiastuti Flying School dengan Susi sebagai direktur utamanya.
Sejujurnya, Susi bilang bahwa pilot-pilot di perusahaannya, berjumlah nyaris mencapai seratus orang, umumnya memang pilot asing dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan beberapa dari Filipina. “Mencakup lebih dari 90% pilot yang bekerja pada kami,” ucapnya, sambil menghela napas panjang. Susi memang tak sedang berbangga diri bahwa sebagai anak negeri, wanita pribumi, ia berhasil mempekerjakan pilot-pilot muda asing. “Tidak! Saya tidak bangga! Saya justru merasa sedih…,” lanjutnya, sambil lagi-lagi ia menghela napas panjang.
Susi juga bukan tidak nasionalis dengan mempekerjakan pilot-pilot asing di nyaris semua pesawat miliknya. Awalnya, ia juga mimpi, pesawat-pesawatnya terbang melintasi khatulistiwa dan singgah di berbagai pelosok Nusantara, dengan pilot-pilot sebangsa dan sewarna kulit dengannya. Tetapi, mimpi itu tinggal sekadar mimpi. “Untuk mendapatkan pilot nyatanya tak semudah kita membalikkan tangan,” katanya.
Indonesia, menurut Susi, amat kekurangan pilot. Dari kebutuhan sekitar seratus pilot tiap tahunnya, cuma sebagian kecil saja yang diisi oleh pilot-pilot lulusan sekolah penerbang di Indonesia. Sebagian besar lebihnya merupakan pangsa kerja serapan pilot-pilot asing.
Sedemikian besarnya peluang kerja ini, sampai-sampai saat masih di bangku sekolah pun terkadang banyak calon pilot Indonesia yang diijon kerja di berbagai perusahaan jasa penerbangan yang ada. Satu hal lain, pesawat-pesawat yang dimiliki Susi adalah pesawat-pesawat ringan, pesawat ‘mini’, dengan rute penerbangan yang tak populer di berbagai pelosok Indonsia. “Pilot-pilot kita, apalagi yang senior, mana mau terbang mengawaki pesawat kecil, apalagi ke pelosok-pelosok terpencil yang sepi dan susah dijangkau. Pastilah pesawat-pesawat jet berbadan besar, dengan perusahaan-perusahaan besar dan terkenal, lebih mendatangkan prestise untuk dijajal sebagai lahan kerja,” katanya, setengah bergurau.
Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pilot (dan ahli mesin) di perusahaannya, Susi bergerilya menyebar iklan ke situs-situs internet ataupun datang langsung ke sekolah-sekolah penerbangan sipil di berbagai negeri, khususnya Amerika dan Eropa. Untuk menindaklanjuti minat menjadi pilot Susi Air itu pula, ia lantas membangun Susi Flying School dengan berbagai program dasar dan lanjutan. Beberapa ruang kelas ber-AC dibangunnya di halaman rumahnya yang luas, lengkap dengan mock-up dan ragam compu-system dan alat avionik lainnya. Untuk uji terbang, silakan ke airstrip pribadinya di Pantai Pangandaran.
“Bagi pilot-pilot muda asing, menerbangkan pesawat-pesawat Susi Air bukan sekadar untuk menambah jam terbang yang memang amat dibutuhkan. Lebih dari itu, alam dan budaya Indonesia merupakan titik penting dari minat kerja mereka. Bayangkan! Mereka bisa melihat dan mendekat langsung ke spot-spot alam Indonesia, bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat di berbagai pelosok negeri, dan untuk semua pengalaman berharga itu, mereka mendapat bayaran yang pantas sebagai pilot,” kata Susi. Tak heran bila banyak pilot Susi Air yang amat kerasan bekerja. Bahkan, saat-saat cuti pun, bukannya mudik ke negerinya, eh… mereka malah pergi ke tempat-tempat eksotis di berbagai pelosok Indonesia.
MENGALIR SEPERTI AIR
Susi bisa saja mengaku bahwa kehidupan spiritualnya masih kurang sempurna. Namun, seorang ajengan, pimpinan agama Islam di sebuah wilayah di Jawa Barat, mengatakan, Susi gemar membantu pembangunan masjid. Salah satu masjid yang dibangun Susi adalah Masjid Istiqomah, masjid besar dan cantik dengan halaman yang lumayan luas, tegak di sebuah persimpangan jalan utama di Kota Pangandaran. “Ini dibangun Ibu Susi tahun 2007 awal, saat-saat ia aktif membantu membangun kembali kawasan Nanggroe Aceh Darussalam pascatsunami 26 Desember 2004,” ungkap seorang warga yang femina temui di pinggir jalan.
Untuk keperluan pembangunan tempat ibadah ataupun aktivitas keagamaan dan sosial, Susi dikenal ringan tangan. “Gampang dimintai tolong,” ungkap Ramadi, nelayan Pangandaran. Pascatsunami yang menghantam Pangandaran tahun 2007, rumah Ramadi luluh lantak, dan bisa terbangun lagi antara lain berkat bantuan Susi. Kini Ramadi mewakili beberapa rekannya untuk bisa mendapatkan bantuan kredit murah kepemilikan longboat (sampan panjang) dari bahan fiberglass untuk nelayan setempat, yang diusahakan Susi sejak beberapa tahun terakhir ini.
“Apa yang mereka berikan pada saya, kebaikan, persaudaraan, jauh lebih banyak…,” ungkap Susi. Senin pagi itu, ketika kembali bertemu femina, ia sudah rapi. Biasanya ia masih sempat olahraga, jalan-jalan keliling halaman sembari ‘sidak’ ke pabrik, dapur, ataupun ruang-ruang lain di rumahnya itu. Tetapi, kali ini tidak. “Alvi harus masuk sekolah, pukul delapan,” katanya, sembari menyuapkan potongan serabi di tangannya.
Selain itu, ia juga ada janji dengan sekelompok relasi bisnisnya. Untuk itu, di pagi yang masih berkabut itu, ia sudah harus keluar rumah. Berjalan sedikit ke airstrip yang dibangunnya di pinggir pantai. Di situ sudah menunggu sebuah Cessna, yang segera menerbangkannya ke Bandara Halim Perdanakusuma. Belum sampai pukul delapan, ia mengantar si bungsu Alvi ke sekolahnya di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Dan, beberapa menit kemudian ia sudah sibuk menerima telepon branch office-nya, tak jauh dari situ. Mengenai hidupnya yang selalu sibuk, dengan sederhana Susi bilang, “Mengalir saja seperti air….”
Tamat
Penulis: Heryus Saputro (Kontributor – Jakarta)
Rabu, 23 Juni 2010
NEW YORK, KOMPAS.com - Kehadiran iPad, komputer tablet buatan Apple, kembali mendapat pujian. Kali ini pujian datang dari Rupert Murdoch, taipan media pimpinan kelompok grup media News Corp.
"Ini merupakan penemuan yang fantastis," kata Rupert Murdoch memuji iPad di depan umum saat menjadi pembicara dalam pembukaan New York Forum, Selasa (22/6/2010) seperti dilansir situs Business Week. Menurutnya, iPad berhasil memadukan berbagai kelebihan sehingga bisa menyajikan berbagai jenis media untuk semua kalangan dari anak usia tiga tahun hingga orang tua berusia 100 tahun.
Murdoch percaya iPad akan mendorong munculnya perangkat tablet lebih banyak lagi. Bahkan, ia meyakini ratusan ribu perangkat tablet semacam itu akan menjadi barang bawaan banyak orang di seluruh dunia.
Munculnya iPad secara langsung maupun tidak memang diyakini akan menyelamatkan bisnis media. Selama ini, Murdoch termasuk tokoh utama yang menentang model konten gratis karena dinilainya membunuh masa depan media cetak. Situs Wall Street Journal, salah satu media yang kini dimilikinya, masih bertahan dengan menarik bayaran kepada pelanggannya untuk mengakses konten secara penuh.
"Saya yakin dalam lima tahun, akan ada ratusan ribu iPad dan perangkat sejenis iPad di seluruh dunia. Ini merupakan pasar baru yang besar," tegas Murdoch sebelum mengulas topik-topik lainnya seperti kebijakan politik dan ekonomi AS pimpinan Presiden Barack Obama.
New York Forum merupakan acara pertemuan para CEO, pembuat keputusan, dan para pemimpin berbagai organisasi di AS untuk menghasilkan rekomendasi bagi perbaikan ekonomi di AS. Forum ini digagas Richard Attias yang juga penyokong World Economic Forum yang rutin digelar setiap tahun di Davos, Swiss.
"Ini merupakan penemuan yang fantastis," kata Rupert Murdoch memuji iPad di depan umum saat menjadi pembicara dalam pembukaan New York Forum, Selasa (22/6/2010) seperti dilansir situs Business Week. Menurutnya, iPad berhasil memadukan berbagai kelebihan sehingga bisa menyajikan berbagai jenis media untuk semua kalangan dari anak usia tiga tahun hingga orang tua berusia 100 tahun.
Murdoch percaya iPad akan mendorong munculnya perangkat tablet lebih banyak lagi. Bahkan, ia meyakini ratusan ribu perangkat tablet semacam itu akan menjadi barang bawaan banyak orang di seluruh dunia.
Munculnya iPad secara langsung maupun tidak memang diyakini akan menyelamatkan bisnis media. Selama ini, Murdoch termasuk tokoh utama yang menentang model konten gratis karena dinilainya membunuh masa depan media cetak. Situs Wall Street Journal, salah satu media yang kini dimilikinya, masih bertahan dengan menarik bayaran kepada pelanggannya untuk mengakses konten secara penuh.
"Saya yakin dalam lima tahun, akan ada ratusan ribu iPad dan perangkat sejenis iPad di seluruh dunia. Ini merupakan pasar baru yang besar," tegas Murdoch sebelum mengulas topik-topik lainnya seperti kebijakan politik dan ekonomi AS pimpinan Presiden Barack Obama.
New York Forum merupakan acara pertemuan para CEO, pembuat keputusan, dan para pemimpin berbagai organisasi di AS untuk menghasilkan rekomendasi bagi perbaikan ekonomi di AS. Forum ini digagas Richard Attias yang juga penyokong World Economic Forum yang rutin digelar setiap tahun di Davos, Swiss.
Selasa, 22 Juni 2010
sekolah
AKADEMI MINYAK DAN GAS BUMI (AKAMIGAS), CEPU
[ print data kampus | beritahu teman ]
Jenis Perguruan Tinggi : Kedinasan
A l a m a t : Jl. Sorogo No.1, Cepu, Kab. Blora, Jawa Tengah 58312
Telepon : 0296 - 21888
Nama Rektor : Ir. Namida Suparyono, M.Sc.
Profil Akademi Minyak dan Gas Bumi (AKAMIGAS), Cepu
Jumlah Mahasiswa : 408
Jumlah Dosen Tetap : 119
Jumlah Dosen Lulusan S2 : 13
Jumlah Dosen Lulusan S3 : 3
Luas Kampus : 43.552
Koleksi Perpustakaan : 108.960 judul, eksemplar, luas 1.522 m2
Laboratorium : 7.900 m2
Fasilitas Lain : Ruang kuliah (9.935 m2), ruang dosen (200 m2), ruang kantor/administrasi (2.480 m2), ruang aula (1.488 m2), asrama mahasiswa (17.046 m2), ruang olahraga (1.445 m2), ruang studio (150 m2), ruang komputer (1.150 m2), ruang penelitian/pengabdian pada masyarakat (3.280 m2), ruang serbaguna (2.096 m2), masjid (1.445 m2, gereja (350 m2).
Program Studi
1.Jurusan Produksi :
- Program Studi Produksi (D1, D2, D3)
2.Jurusan Pengolahan:
- Program Studi Pengolahan (D1, D2, D3)
3.Jurusan Teknologi Gas:
- Program Studi Teknologi Gas (D1, D2)
4.Jurusan Laboratorium Pengolahan:
- Program Studi Laboratorium Pengolahan (D1, D2)
5.Jurusan Utilities:
- Program Studi Utilities (D1, D2)
6.Jurusan Teknologi Mesin Lapangan:
- Program Studi Teknologi Mesin Lapangan (D1, D3)
7.Jurusan Teknologi Mesin Kilang:
- Program Studi Teknologi Mesin Kilang (D1, D2, D3)
8.Jurusan Teknologi Listrik Perminyakan:
- Program Studi Teknologi Listrik Perminyakan (D2, D3)
9.Jurusan Instrumen dan Elektro:
- Program Studi Instrumen dan Elektro (D1, D2, D3)
10.Jurusan Pembekalan Dalam Negeri:
- Program Studi Pembekalan Dalam Negeri (D1, D2, D3)
11.Jurusan Fire dan Safety:
- Program Studi Fire dan Safety (D1, D2, D3)
[ print data kampus | beritahu teman ]
Jenis Perguruan Tinggi : Kedinasan
A l a m a t : Jl. Sorogo No.1, Cepu, Kab. Blora, Jawa Tengah 58312
Telepon : 0296 - 21888
Nama Rektor : Ir. Namida Suparyono, M.Sc.
Profil Akademi Minyak dan Gas Bumi (AKAMIGAS), Cepu
Jumlah Mahasiswa : 408
Jumlah Dosen Tetap : 119
Jumlah Dosen Lulusan S2 : 13
Jumlah Dosen Lulusan S3 : 3
Luas Kampus : 43.552
Koleksi Perpustakaan : 108.960 judul, eksemplar, luas 1.522 m2
Laboratorium : 7.900 m2
Fasilitas Lain : Ruang kuliah (9.935 m2), ruang dosen (200 m2), ruang kantor/administrasi (2.480 m2), ruang aula (1.488 m2), asrama mahasiswa (17.046 m2), ruang olahraga (1.445 m2), ruang studio (150 m2), ruang komputer (1.150 m2), ruang penelitian/pengabdian pada masyarakat (3.280 m2), ruang serbaguna (2.096 m2), masjid (1.445 m2, gereja (350 m2).
Program Studi
1.Jurusan Produksi :
- Program Studi Produksi (D1, D2, D3)
2.Jurusan Pengolahan:
- Program Studi Pengolahan (D1, D2, D3)
3.Jurusan Teknologi Gas:
- Program Studi Teknologi Gas (D1, D2)
4.Jurusan Laboratorium Pengolahan:
- Program Studi Laboratorium Pengolahan (D1, D2)
5.Jurusan Utilities:
- Program Studi Utilities (D1, D2)
6.Jurusan Teknologi Mesin Lapangan:
- Program Studi Teknologi Mesin Lapangan (D1, D3)
7.Jurusan Teknologi Mesin Kilang:
- Program Studi Teknologi Mesin Kilang (D1, D2, D3)
8.Jurusan Teknologi Listrik Perminyakan:
- Program Studi Teknologi Listrik Perminyakan (D2, D3)
9.Jurusan Instrumen dan Elektro:
- Program Studi Instrumen dan Elektro (D1, D2, D3)
10.Jurusan Pembekalan Dalam Negeri:
- Program Studi Pembekalan Dalam Negeri (D1, D2, D3)
11.Jurusan Fire dan Safety:
- Program Studi Fire dan Safety (D1, D2, D3)
perbatasan
PERBATASAN
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar 81.900 kilometer, memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara baik perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Batas darat wilayah Republik Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia, Papua New Guinea (PNG) dan Timor Leste. Perbatasan darat Indonesia tersebar di tiga pulau, empat Provinsi dan 15 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki karakteristik perbatasan yang berbeda-beda. Demikian pula negara tetangga yang berbatasannya baik bila ditinjau dari segi kondisi sosial, ekonomi, politik maupun budayanya. Sedangkan wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste dan Papua Nugini (PNG). Wilayah perbatasan laut pada umumnya berupa pulau-pulau terluar yang jumlahnya 92 pulau dan termasuk pulau-pulau kecil. Beberapa diantaranya masih perlu penataan dan pengelolaan yang lebih intensif karena mempunyai kecenderungan permasalahan dengan negara tetangga.
Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nasional 2004-2009) telah menetapkan arah dan pengembangan wilayah Perbatasan Negara sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Pembangunan wilayah perbatasan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan misi pembangunan nasional, terutama untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan wilayah, pertahanan keamanan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan. Paradigma baru, pengembangan wilayah-wilayah perbatasan adalah dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi “inward lookingâ€, menjadi “outward looking†sehingga wilayah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan pembangunan wilayah Perbatasan Negara menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dengan tidak meninggalkan pendekatan keamanan (security approach). Sedangkan program pengembangan wilayah perbatasan (RPJM Nasional 2004-2009), bertujuan untuk : (a) menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang dijamin oleh Hukum Internasional; (b) meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial dan budaya serta keuntungan lokasi geografis yang sangat strategis untuk berhubungan dengan negara tetangga. Disamping itu permasalahan perbatasan juga dihadapkan pada permasalahan keamanan seperti separatisme dan maraknya kegiatan-kegiatan ilegal.
Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2005 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2006 (RKP 2006) telah pula menempatkan pembangunan wilayah perbatasan sebagai prioritas pertama dalam mengurangi disparitas pembangunan antarwilayah, dengan program-program antara lain : Percepatan pembangunan prasarana dan sarana di wilayah perbatasan, pulau-pulau kecil terisolir melalui kegiatan : (i) pengarusutamaan DAK untuk wilayah perbatasan, terkait dengan pendidikan, kesehatan, kelautan dan perikanan, irigási, dan transportasi, (ii) penerapan skim kewajiban layanan publik dan keperintisan untuk transportasi dan kewajiban layanan untuk telekomunikasi serta listrik pedesaan; Pengembangan ekonomi di wilayah Perbatasan Negara; Peningkatan keamanan dan kelancaran lalu lintas orang dan barang di wilayah perbatasan, melalui kegiatan : (i) penetapan garis batas negara dan garis batas administratif, (ii) peningkatan penyediaan fasilitas kapabeanan, keimigrasian, karantina, komunikasi, informasi, dan pertahanan di wilayah Perbatasan Negara (CIQS); Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah yang secara adminstratif terletak di wilayah Perbatasan Negara.
Komitmen pemerintah melalui kedua produk hukum ini pada kenyataannya belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya karena beberapa faktor yang saling terkait, mulai dari segi politik, hukum, kelembagaan, sumberdaya, koordinasi, dan faktor lainnya.
Sebagian besar wilayah perbatasan di Indonesia masih merupakan daerah tertinggal dengan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas. Pandangan dimasa lalu bahwa daerah perbatasan merupakan wilayah yang perlu diawasi secara ketat karena menjadi tempat persembunyian para pemberontak telah menjadikan paradigma pembangunan perbatasan lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan dari pada kesejahteraan. Sebagai wilayah perbatasan di beberapa daerah menjadi tidak tersentuh oleh dinamika sehingga pembangunan dan masyarakatnya pada umumnya miskin dan banyak yang berorientasi kepada negara tetangga. Di lain pihak, salah satu negara tetangga yaitu Malaysia, telah membangun pusat-pusat pertumbuhan dan koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang telah memberikan keuntungan bagi pemerintah maupun masyarakatnya. Demikian juga Timor Leste, tidak tertutup kemungkinan dimasa mendatang dalam waktu yang relatif singkat, melalui pemanfaatan dukungan internasional, akan menjadi negara yang berkembang pesat, sehingga jika tidak diantisipasi provinsi NTT yang ada di perbatasan dengan negara tersebut akan tetap tertinggal.
Dengan berlakunya perdagangan bebas baik ASEAN maupun internasional serta kesepakatan serta kerjasama ekonomi baik regional maupun bilateral, maka peluang ekonomi di beberapa wilayah perbatasan darat maupun laut menjadi lebih terbuka dan perlu menjadi pertimbangan dalam upaya pengembangan wilayah tersebut. Kerjasama sub-regional seperti AFTA (Asean Free Trade Area), IMS-GT (Indonesia Malaysia Singapura Growth Triangle), IMT-GT (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle), BIMP-EAGA (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philipina-East Asian Growth Area) dan AIDA (Australia Indonesia Development Area) perlu dimanfaatkan secara optimal sehingga memberikan keuntungan kedua belah pihak secara seimbang. Untuk melaksanakan berbagai kerjasama ekonomi internasional dan sub-regional tersebut Indonesia perlu menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga Indonesia tidak akan tertinggal dari negara-negara tetangga yang menyebabkan sumberdaya alam yang tersedia terutama di wilayah perbatasan akan tersedot keluar tanpa memberikan keuntungan bagai masyarakat dan pemerintah. Sarana dan prasarana ekonomi dan sosial yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan kerjasama bilateral dan sub-regional perlu disiapkan. Penyediaan sarana dan prasarana ini tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar, oleh karena itu diperlukan penentuan prioritas baik lokasi maupun waktu pelaksanaannya.
Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan ini diharapkan dapat memberikan prinsip-prinsip pengembangan wilayah Perbatasan Negara sesuai dengan karakteristik fungsionalnya untuk mengejar ketertinggalan dari daerah di sekitarnya yang lebih berkembang ataupun untuk mensinergikan dengan perkembangan negara tetangga. Selain itu, kebijakan dan strategi ini nantinya juga ditujukan untuk menjaga atau mengamankan wilayah Perbatasan Negara dari upaya-upaya eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun yang dilakukan dengan dorongan kepentingan negara tetangga, sehingga kegiatan ekonomi dapat dilakukan secara lebih selektif dan optimal.
KERUSUHAN ETNIS
Pengungsi Keturunan Uzbek Mulai Kembali ke Osh
OSH - Para pengungsi keturunan Uzbek yang meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari serangan kelompok Kirgis mulai kembali ke kota Osh. Kondisi keamanan mulai normal.
Mereka yang terkatung-katung di dekat perbatasan Uzbekistan tersebut memilih pulang meski rumahnya telah rata dengan tanah. Associated Press melansir bahwa para pengungsi itu hanya berdiri dan melihat-lihat puing bangunan yang habis terbakar.
''Tadi malam suasana di Osh sudah mulai tenang dan damai. Kehidupan mulai kembali normal,'' ujar Wakil Perdana Menteri Interim Kirgis Azimbek Beknazarov kemarin (17/6).
Ratusan ribu warga keturunan Uzbek meninggalkan rumah mereka mencari perlindungan ke negara tetangga Uzbekistan setelah geng bersenjata dari etnis Kirgis menyerang kota Osh. Data terbaru pemerintah menyatakan, kerusuhan tersebut menewaskan setidaknya 191 orang dan melukai 1.800 lainnya.
Ribuan etnis Uzbek masih bertahan di perbatasan dan belum berani pulang. Mereka malah menunggu otoritas Uzbekistan membuka jalur perbatasan dan mengizinkan mereka menemui sanak keluarganya yang lebih awal tinggal di pengungsian.
Otoritas Uzbekistan memutuskan untuk menutup jalur perbatasan tiga hari lalu. Mereka kewalahan menampung lebih dari 100 ribu pengungsi. Mereka hanya mengizinkan pengungsi yang sakit dan terluka memasuki kamp pengungsian untuk mendapat perawatan.
Kemarin kali pertama bantuan darurat internasional diterima pengungsi. Palang Merah Internasional menyatakan, krisis kemanusiaan akibat kerusuhan etnis di Kirgistan telah meluas.
Dari wilayah perbatasan Uzbekistan, para pengungsi mulai mendiami ratusan tenda yang didirikan badan-badan PBB, seperti UNHCR dan UNICEF. Uzbekistan menyatakan telah menerima lebih dari 75 ribu pengungsi akibat kerusuhan etnis di negara tetangganya itu. Sedangkan 200 ribu pengungsi telah dikembalikan ke wilayah Kirgistan.
Saat ini sekitar seribu pengungsi mendiami tenda-tenda. Di tenda itu pekerja kemanusiaan menyerahkan pakaian dan selimut. Namun, ribuan bantuan yang lain akan diserahkan kepada pengungsi di kamp sementara yang dibangun pemerintah Uzbek.
Para pengungsi menyatakan putus asa dan membutuhkan cadangan makanan pasca meninggalkan tempat tinggal mereka lima hari lalu. ''Pertama, kami perlu pakaian dan obat-obatan, khususnya untuk anak-anak. Sebab, saat kami mengungsi, kami hanya bisa melarikan diri tanpa sempat membawa apa pun,'' tutur Halima Otajonova, 41, ibu dua anak yang tinggal di kamp pengungsian di Stadion Uzbek di kota Khanabad. ''Bahkan, banyak di antara kami yang lari dengan telanjang kaki,'' tandasnya.
Dua pesawat yang membawa ratusan tenda dari UNHCR telah tiba di Uzbekistan. Sementara empat pesawat lainnya dijadwalkan tiba akhir pekan ini.
Sebuah pesawat berisi bantuan dari Komisi Palang Merah Internasional, antara lain selimut, terpal, peralatan masak, dan sabun, juga sudah mendarat di Kirgistan Selatan dan Timur. ''Ini adalah krisis kemanusiaan besar,'' ujar Severine Chappaz, wakil kepala ICRC di Kirgistan, seperti dilansir Agence France-Presse.
Para pengungsi, baik di perbatasan Kirgistan maupun Uzbekistan khawatir akan terjadinya kekerasan dan pemerkosaan oleh militer Kirgistan seperti yang terjadi pada kerusuhan 1990-an. Etnis Uzbek menyatakan, militer berupaya mengusir etnis Uzbek keluar dari wilayah Kirgistan. (cak/c4/dos)
jamur
Selama ini jamur tiram dibudidayakan di dataran tinggi dalam skala besar. Namun, ternyata jamur tiram adaptif di dataran rendah seperti Jakarta dan sekitarnya. Produksinya pun tak beda jauh dengan di dataran tinggi. Besar kumbung bisa disesuaikan dengan luas tanah yang ada. Trubus mengundang Anda untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram hingga cara mengolahnya langsung dengan ahlinya.
Materi
Keterangan lebih lanjut hubungi:
Suci atau DeviTelp 021-8729 060, 8770 1748, HP. 0813 1603 4009 Faks. 021-872 9059 E-mail: pelatihan@trubus-online.co.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it Pembayaran, transfer ke BCA Cab. Samanhudi a.n. Trubus Swadaya No. rekening 4770100009.
Materi
- Memilih strain tiram
- Kiat pilih baglog yang ideal
- Membuka cincin baglog
- Budidaya jamur tiram
- Menembus pasar tiram
- Cara olah jamur tiram
- Kunjungan lapangan
- Member Trubus Online, Rp1.250.000/orang
- Umum, Rp1.350.000/orang.
Keterangan lebih lanjut hubungi:
Suci atau DeviTelp 021-8729 060, 8770 1748, HP. 0813 1603 4009 Faks. 021-872 9059 E-mail: pelatihan@trubus-online.co.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it Pembayaran, transfer ke BCA Cab. Samanhudi a.n. Trubus Swadaya No. rekening 4770100009.
Langganan:
Postingan (Atom)


